Awali dengan bumbu bukan akhiri dengan Monosodium glutamat

Lama sudah saya tak menulisi blog ini. Karena sedikit lapar saya menulis ini. Banyak teman di perantauan yang bilang “ribet” ketika melihat kami memasak. Bumbunya bejibun, proses memasaknya lama pula, dan terkesan tidak praktis. Mungkin iya, masakan Padang memang rame. Ada macam-macam bumbu. Cabe, bawang merah, bawang putih, jahe, kunyit, lengkuas, kemiri, ketumbar , merica, buah pala, kulit manis, dan masih ada lagi yang lain. Belum lagi asam-asaman, daun-daunan (daun salam, daun kunyit, daun asam, ruku-ruku, sereh, dll), belum lagi “pamasak” alias bumbu yang harus ditumbuk halus atau sudah jadi dalam kemasan. Belum lagi takaran santan. Belum lagi proses dan cara memasak (apinya, kuali/periuknya, dan tingkat kematangan). Begitulah kawan, “makan” adalah hasil dari kau bekerja, maka nikmati dan hargailah dia. Mungkin salah satunya melalui bumbu, bumbu memberi citarasa yang berbeda. Ibuku bilang “tuang mato ka nan rancak, tuang salero ka nan lamak” yang kira-kira artinya “mata condong pada yang bagus, selera condong pada yang enak”. Baca lebih lanjut

Insinyur

Waktu itu tanpa sengaja kutemukan kembali buku pelajaran sekolahku di gudang. Buku itu sudah lama tak kubaca, penuh debu dan buruk rupa. Dia dulu menjadi kawanku saat menghadapi pelajaran dan menyiapkan ujian. Di buku itu ada tertulis nama kawanku yang menghadiahkannya. Kawan yang nakal tapi baik hati. Kami adalah sepasang kawan di masa kecil. Kami selalu belajar bersama dan entah mengapa aku selalu membuatnya mengerutkan kening karena berpikir. Mungkin aku terlalu cepat berbicara. Atau tidak bisa menjelaskan secara sederhana. Atau dia yang terlalu pintar sehingga tak paham dengan kesederhanaan deskripsiku? Tapi akhirnya dia paham juga, setelah agak lama tentunya. Ketika pelajaran hampir tamat dia pindah ke kota lain. Kami berpisah. Terlalu mendadak dan aneh. Katanya dia ingin sekolah yang lebih baik di negeri yang lebih baik pula. Lagi-lagi aneh. Padahal saat itu persahabatan kami baru saja kembali dan sedang erat-eratnya. Dan yang lebih penting lagi ada PR yang belum kami kerjakan : mengerjakan tugas kelompok soal harian pelajaran Budi Pekerti. Cuma muatan lokal, tapi penting juga, soalnya sang Ibu Guru agak galak dan suka mencubit jika tidak mengerjakan PR. Dan yang lebih penting: pelit nilai. Hahaha. Aku dibelikannya setusuk es potong, silinder dingin itu hanya meleleh dikerubungi semut. Seragam merah-putihku terasa mencekik leher. Baca lebih lanjut

Bila lalai

Bila lalai menjadi kawan tak satupun musuh kan kau hadang selain terlambat. Sudahlah kawan hanya sekian putaran jam tapi dia pun pergi melambaikan tangan tak dapat kulihat bagaimana lagi bentuk mukanya. biarlah, tahun depan dia pasti kembali menemuiku dengan berani. hanya tergantung aku apakah mau menerima atau menolak dengan berani.

dia tersenyum dan meninggalkan si lalai yang baru tersadar bahwa sang kawan telah jauh

dan dia sendiri dalam sepi melihat arakan mereka dari jauh

hidup hanya masalah ingatan

Kelana 2 ..

Ayo diri …

salam untuk hujan

dan dia masih menyukai hujan walau juga tak begitu berharap ada payung untuk menyambutnya.

Kelana …

seminggu dalam aneka ragam langkah dan tempat singgah, menjadi pengembara adalah sebuah anugerah yang tak disangka oleh si penetap. Banyak makna berjalan seiring begitu mulai kelihatannya seluruh jalanan secara perlahan. dan seminggu sudah dia berkelana, seorang dara yang menyengajakan dirinya tanpa rumah. Hanya  demi sebuah makna. makna tentang hidup yang menginginkan hijrah. dan sungguh Hijrah adalah sebuah jendela demi sebuah pintu yang akan memberi pilihan pada bilik dan dapur serta sumur.

Menemui aneka muka dan reaksi serta ekspresi. Manusia benar-benar handal dan kaya akan segala. dan dari jalan hidup semua dibacakan. jalanan panjang tanpa ujung…

(Mari kembali mengembara ..)

Aku dikejar …

dan dia mengejar ..

dalam langkah tanpa derap

dalam busung tanpa dada

dalam rupa tanpa bentuk

dia hanya setitik cahaya semu

bernama angin