Aku dikejar …
dan dia mengejar ..
dalam langkah tanpa derap
dalam busung tanpa dada
dalam rupa tanpa bentuk
dia hanya setitik cahaya semu
bernama angin
mungkin Bunda
dia bernama bunda
bisakah semua menjelma menjadi bunda
imom katanya …
dan dia begitu luar biasa..
seluar biasanya hujan di tengah kemarau di Bandung Utara
dan mata ini sedang berisi bayanganmu…
ah bunda …
semua baik-baik saja ..
sebaik ketika aku masih belum tahu angka-angka jam di rumah kita ..
semua jarumnya masih berdetak kan, Bunda?
dan sekarang sudah 3 jam dari jam 2 …
selamat sore bunga dunia …
mengusir biasa …
Duduak surang basampik sampik
Duduak basamo balapang lapang
Kato surang di bulek-i
Kato basamo di paiyokan
Kita memang harus berbicara
Kau tahu apa yang membuat kita berhenti?
Bila kita telah melangkah pada batas jalan
Dan berlayar mencapai pulau
Tapi sebelum itu alangkah baiknya bila kita berhenti sejenak
Menarik nafas dan mencumbui semilir angin
Dan mengatakan padanya
Betapa luar biasanya taman dengan air terjun itu …
Betapa indahnya wismamu oleh kaumku
Di ujung jalan sana …
Di atas pulau itu … (lagi…)
semua tentang kebutuhan
“Kapan kau akan membukanya?” tanyanya.
Aku berkata padanya nanti saja kalau ku butuh
kau kan tau kawan, butuh itu ada bila ada ketidakseimbangan dalam gerakmu memenuhi hidup.
aku tertawa .. dan dia pun tertawa ..
kadang tertawa bisa menjadi milik orang gila bila dia kau keluarkan tanpa batas,
mungkin aku sudah gila, dan dia juga.
tapi tertawa sepertinya menjadi solusiku untuk tak menangis pada hidup apalagi pada kematian,
entah dia.
kau tanya sajalah padanya. apa yang membuatnya tertawa.
tertawa saja dan itu adalah kebutuhan.
saat ini.
setelah begitu banyak tangis yang kita lihat
setelah bibir tersimpul dikalahkan oleh air mata.
setelah wajah kaku kuyu menjadi pemandangan keseharian
setelah semua hanya bertema kesedihan
semua hanya butuh kebahagiaan.
dan itu dekat dengan tawa …
(untuk orang-orang gila yang mempunyai kelebihan tawa … hahahahaha)
AKU sudah cukup renta menunggu senja.
AKU sudah cukup renta menunggu senja.
Tapi mengapa masih saja kau datang di pagi buta.
Aku sudah cukup lelah mengharap matahari tapi kau datang untuk meninggalkanku
kala rembulan masih memperlihatkan diri. (lagi…)