Kelana …
seminggu dalam aneka ragam langkah dan tempat singgah, menjadi pengembara adalah sebuah anugerah yang tak disangka oleh si penetap. Banyak makna berjalan seiring begitu mulai kelihatannya seluruh jalanan secara perlahan. dan seminggu sudah dia berkelana, seorang dara yang menyengajakan dirinya tanpa rumah. Hanya demi sebuah makna. makna tentang hidup yang menginginkan hijrah. dan sungguh Hijrah adalah sebuah jendela demi sebuah pintu yang akan memberi pilihan pada bilik dan dapur serta sumur.
Menemui aneka muka dan reaksi serta ekspresi. Manusia benar-benar handal dan kaya akan segala. dan dari jalan hidup semua dibacakan. jalanan panjang tanpa ujung…
(Mari kembali mengembara ..)
11 12
dulu ibuku pernah bilang kau dan kakakmu itu 11 12 aja dalam merayu orang tua !!
kakakku juga pernah mengadu kalau gurunya pernah juga bilang “kau bikin tugas kayak ini?! 11 12 aja dengan tidak kuajarkan!!”
dosen itu pun berkata “kalian nitip absen terus, 11 12 aja dengan pejabat pemalas”
ups ..
11 12 … ya 11 12
isitilah ini diibaratkan dengan adanya suatu kesamaan atau kemiripan di antara dua unsur yang berbeda.
saya pernah bertanya dari mana istilah ini muncul dan siapa yang pertama kali memunculkan, kok bisa??
logisnya saya pikir, mungkin karena angka 11 dan 12 itu berurutan dan setingkat maksudnya sesudah angka 11 ya angka 12 … ga nangkring dulu kemana, tapi langsung sehingga terlihat runut dan urut jadi diibaratkan sama dan sepantaran. sehingga bisa dijadikan bahasa konotasi untuk menyamakan sesuatu …
entahlah, mungkin ada yang tahu? :d
Bayang Mengejar
Pernah aku bertanya dan entah betapa seringnya pula tak ku keluarkan suara, ternyata dia tak sediam selama yg kupikir saat sebelum ini .. dia malah sangat pandai berteriak.
kulihat bayangnya malam itu. Di bawah temaram lampu yang ditutupi laron yang membuatnya sayup-sayup menyampaikan cahaya. Dia tak sendiri, namun dalam tengah malam pun ternyata dia bersuara bahkan berteriak sangat kencang yang selama ini tak kusangka dia mampu mengeluarkannya ..
Untung saja bukan di siang hari, atau malam gelap buta, kalo saja seperti itu maka tak dapat kulihat bayangannya disana …
bayangan yang tak dapat kubayangkan selama ini ..
aku tergagap karena tak adanya rasa percaya, dia ternyata tak berdada dan berkepala …
sudah aku pulang saja.
(sambil menunggu datangnya lumpia basah, dalam ke sekian basahnya sore di Jatinangor)
dan senja telah menampakkan bayangnya …
beRASAsama
Tepat tigapuluhtujuh hari sudah tak kuikat ingatan itu dengan aksara. akibatnya bukan semakin sering aku bercerita tetapi semakin banyak yang terlupa. tak terasa dua purnama sudah kulewati dari dua pulau yang berbeda. dan hari Raya Sang Pemercaya Dewa akan diganti oleh Hari Raya Sang Pemercaya Allah yang Esa. beberapa hitungan hari lagi. dan Hari Raya, semakin kulihat sebagai perayaan aneka rupa. tapi jauh sebelum itu aneka acara kebersamaan menjadi pengikat agar bercerai berai menghapus semua simbol ketidakakraban. kita harus bersama katanya, bareng istilahnya, walaupun itu hanya sekedar buka puasa bersama. dan dalam ramadhan ke sembilan belas ini, sudah lebih dari sepuluh kali kulalui acara “buka bareng” atau sering kami bilang -bubar- kadang awalnya dimulai dengan masak bareng, nonton bareng, diskusi bareng, atau langsung duduk diam mendengar “siraman rohani” dari ustad atau ustadzah, baru segelas es buah menjadi pembatal apa yang sudah ditahan dari azan subuh menjelang (dan aku pun jadi bertanya: apakah kita puasa dari azan subuh ke azan maghrib, atau dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari … ada yang bisa memberi jelas?) lagi-lagi masalah waktu … (lagi…)
semua hanyalah angka
pernah kukatakan padanya semua hanyalah angka
waktu …
umur …
apalagi perencanaan tak terkecuali kenyataan
angka-angka itu berputar merancang sebuah impian atau mencekam dengan realita
itulah dia.
dengan lingkarannya ia masukkan kita kesana
ke sebuah labirin yang tak seorangpun tahu ada apa di dalamnya
kecuali suratan
juga uluran juang.
kita memang harus berikrar kawan …
walaupun hasil kali bagi tambah dan kurangnya
tetap akan berwujud sama.
kecuali bila kita tidak mau melakukan kebiasaan ini.
tapi apa yang dapat dialami oleh angka selain kali bagi tambah dan kurang?
mmm …
Aku Pulang
mmmm …
Lama pergi membuat keinginan untuk pulang itu pun muncul. seminggu meninggalkan Jatinangor yang tak kumengerti udaranya untuk menemui aneka manusia di Raimuna Nasional di Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta. Pertemuan Penegak dan pandega. Aku Pandu. dan itu lebih ke Jiwa tak hanya simbol. Itu berarti aku mempunyai banyak saudara di negeri ini yang mempunyai perbedaan denganku dalam berbagai hal. bahasa, agama, warna kulit, bentuk rambut, dan juga budaya. Tapi inilah yang membuat kekayaan itu semakin terasa. Luar biasanya Indonesia. Semua Pramuka setingkat SMA-Perguruan Tinggi seluruh Indonesia berkumpul. Tapi yang paling menarik, semua jenis manusia ada… segala budaya ditampilkan .. segala pakaian dan corak lokal bermunculan .. dan suara-suara unik pun terdengar …
luar biasanya …. senangnya …
(dan tunggu aja cerita lengkapnya ..)
Mentari … si mata indah
mentari menyala disini
disini di dalam hatiku
gemuruhnya sampai di sini
disini di urat darahku
meskipun tembok yg tinggi mengurungku
berlapis kawat duri sekitarku
tak satupun yg sanggup menghalangiku
menyala di dalam hatiku
hari ini hari milikku
juga esok masih terbentang
dan mentari kan tetap menyala
di sini di urat darahku..
***
ni lagu, tiap pagi tiap saat jadi soundtrack wajib .. (lagi…)