Insinyur
Waktu itu tanpa sengaja kutemukan kembali buku pelajaran sekolahku di gudang. Buku itu sudah lama tak kubaca, penuh debu dan buruk rupa. Dia dulu menjadi kawanku saat menghadapi pelajaran dan menyiapkan ujian. Di buku itu ada tertulis nama kawanku yang menghadiahkannya. Kawan yang nakal tapi baik hati. Kami adalah sepasang kawan di masa kecil. Kami selalu belajar bersama dan entah mengapa aku selalu membuatnya mengerutkan kening karena berpikir. Mungkin aku terlalu cepat berbicara. Atau tidak bisa menjelaskan secara sederhana. Atau dia yang terlalu pintar sehingga tak paham dengan kesederhanaan deskripsiku? Tapi akhirnya dia paham juga, setelah agak lama tentunya. Ketika pelajaran hampir tamat dia pindah ke kota lain. Kami berpisah. Terlalu mendadak dan aneh. Katanya dia ingin sekolah yang lebih baik di negeri yang lebih baik pula. Lagi-lagi aneh. Padahal saat itu persahabatan kami baru saja kembali dan sedang erat-eratnya. Dan yang lebih penting lagi ada PR yang belum kami kerjakan : mengerjakan tugas kelompok soal harian pelajaran Budi Pekerti. Cuma muatan lokal, tapi penting juga, soalnya sang Ibu Guru agak galak dan suka mencubit jika tidak mengerjakan PR. Dan yang lebih penting: pelit nilai. Hahaha. Aku dibelikannya setusuk es potong, silinder dingin itu hanya meleleh dikerubungi semut. Seragam merah-putihku terasa mencekik leher.
Dia menceritakanku tentang negeri itu dan sungguh indah terdengarnya. Tak perlu seperti kaum syiah yang memukul-mukul dada karena keharuan, mungkin usaha paling rendah, tapi aku hanya bisa berdoa semoga kepindahannya bisa memberinya kebahagiaan dan kesuksesan nantinya. Tak ada senjata kemenangan lain selain ikhlas dan menerima. Menerima segala konsekuensi dan selalu tersenyum akan resiko pilihan. Aku biasa saja akhirnya. Malah sangat biasa. Kadang kebiasaan itu kubikin komedi yang penuh tragedi. Biar ramai. Yang biasa dan datar rasanya tak enak dan tak berbumbu. Hihi. Tapi kami berjanji untuk saling berkirim surat. Semoga ditepati. Kami berbalik arah. Satu hal terluput: kami belum berjabat tangan. Masya allah!
Dari suratnya aku tahu betapa jauh perjalanannya. Sedangkan aku masih di sekolah yang sama. Masih memakai buku yang sama dengan yang diberikannya dulu. Tapi caturwulan setelahnya pun berganti. Sangat berbeda. Dulu aku begitu ingin menemuinya. Kadang aku berhayal menjadi Doraemon biar bisa mengerjakan PR bersama di tempat dan waktu yang sama dengannya melewati pintu ajaib. Kadang aku ingin menjadi pilot yang berubah menjadi wartawan biar bisa mewawancarainya dan melarikannya dari markas musuh. Kadang aku ingin jadi superman yang menculiknya dan menceburkannya ke goa antah berantah yang tidak ada ibu guru mata pelajaran Budi Pekerti di sana. Hohoho. Anak kecil memang imajinatif. Tapi semua hayalanku tujuannya hanya satu: bertemu dengannya. Aku ingin menyelesaikan PR mata pelajaran Budi Pekerti. Dan berjabat tangan!!
Dari sekian surat, banyak hal yang telah kami ceritakan, tapi tak ada satu pun yang terbicarakan. Semua kata hanya selongsong angin yang memberikan beragam makna. Tak ada kesamaan. Cara seperti itu membuatku begitu ingin bertemu dengannya. Walaupun cuma lima menit saja. Tak lebih. Karena ketika suara dan mata bicara kurasa semua makna akan bisa disamakan dan dipahami. Baik secara jantan atau betina. Tak seperti kala itu. Tapi dia tidak bisa. Dia tidak punya waktu dan ruangnya terlalu sempit. Pelajarannya sangat padat katanya. Ah. Padahal aku hanya meminta lima menit saja. Tak lebih, tapi bisa jadi akan berkurang. PR budi pekerti sudah kulupakan tapi berjabat tangan menghantuiku. Dan aku akan menerima ruang dimana saja. Aku hanya inginkan kepuasan dan cara berjabat-tangan yang agak jantan, kataku. Walaupun ini sebenarnya bukan masalah kelamin, tapi yang jantan biasanya dianggap lebih elegan. Hahaha… Tapi dia tidak bisa dan tak kuasa datang atau ditemui, ruang dan waktunya menjadi sempit kala itu. Dia ingin mengejar insinyur katanya. Dan sedang dikejar-kejar insinyur juga. Halah. Bilang saja kau tak berani, kataku dalam hati.
Dulu aku begitu terkagum dengan waktu dan ruang, hingga kini kekaguman itu masih mencumbuiku. Dia sepasang kekasih yang aneh. Ketika waktu berubah bisa jadi ruang berpindah, ketika ruang berganti waktu pun akan mengikut. Pun bila ada yang menetap maka semua itu hanya sebuah faktor kecelakaan dari kemonotonan atau alibi dari proses menunggu. Dalam menunggu biasanya tak ada perubahan yang bisa kita lihat tapi sedang ada proses menuju perubahan itu. Beberapa masa kemudian setelah seragam merah putihku berganti. Ketika itu dalam bulan ajaib yang setengah aku sedang merenung dan mencatat semua ingatanku dalam aksara. Bulan yang penuh dengan kejutan. Ibuku di pulau sebrang sana sedang merintih sakit karena urat dalam kakinya bergejolak namun dia tetap berceloteh dan memberi tawa pada tetangga. Bapakku sedang menikmati penampilan anak didiknya menginjak-nginjak piring dan beling sambil diiringi musik. Tari Piring konvensional yang luar biasa. Dalam hati sebenarnya bapakku sedang mengingat sang cucu yang sudah sebulan tidak dikunjungi. Dan bulan depan dia akan kesana. Di waktu bersamaan dalam sebuah kamar, Zahra keponakanku sedang menyiapkan hari pertamanya memasuki Taman Kanak-Kanak. Dia agak gugup tapi juga senang. Semua telah disiapkan: baju kurung warna pink dengan kerudung putih, sepatu dan kaos kaki, lagi-lagi pink. Tas berisi buku, crayon, pensil dan tempat minum. Tak lupa buku iqra dan binder bergambar Barbie.
Di Televisi orang sibuk membicarakan iring-iringan presiden pergi dan pulang ngantor yang bikin macet. Waktu rakyat dikorupsi karena presiden harus didahulukan. Mengapa presiden tak tinggal di istana saja? Atau pulang ke rumahnya tidak tiap hari? sirine dan mobil patroli jadi simbol bahwa ada yang harus mundur, berhenti, dan ada yang bisa maju lebih cepat. Di tempat lain seorang ibu sedang menatap sendu rumahnya yang menghitam karena kompor gas yang meledak. Sang pengunggah video asusila diperiksa. Kopi luwak jadi pembicaraan. Pertandingan bola dunia mulai mendekati akhir dan sepilah pembicaraan tentang si kulit bundar. Tapi berlanjut lagi dengan bola lokal, calon pemenangnya dari beda pulau. Akhirnya piala direbut oleh sang pemenang dari Andalas, pempek semakin terkenal dan Sriwijaya tak hanya jadi simbol kejayaan di masa silam, tapi juga kini di sepakbola. Sementara itu ketika tulisanku baru setengah, ada pesan singkat masuk dari temanku, katanya besok dia tidak mau naik kereta api, trauma dengan kecelakaan yang baru saja dialaminya dan sadisnya pemberitaan di TV. Sementara Slam, teman kuliahku mengajakku berkelana ke Kepulauan Seribu. Bulan depan katanya. Padahal sebelumnya, Ila’ teman SMA-ku baru saja bercerita kalau dia sedang snorkeling di Kepulauan Seribu, pulau yang indah dan menarik katanya. Aku menelpon sang bunda, beliau sedang sibuk mengurus pesta pernikahan tetangga. Ketika aku mulai menekan tuts keyboard sepasang cicak sedang bercumbu di loteng kamar. Sedikit suara dan setelah itu mereka pergi dari celah jendela. Mungkin malu atau tak mau diganggu area pribadinya atau jangan-jangan mereka kira aku sedang berencana membuat video mereka? Entahlah. Angin kencang datang dan menghempaskan jendela, untung saja si cicak sudah pergi, kalau mereka masih disitu bisa jadi tubuh mereka sudah menjadi kerupuk. Tapi tidak jadi, aku tahu mereka sedang melanjutkan aksinya di sebuah sudut di luar sana yang tak ada mata manusia dan angin kencang. Selamat bersenang-senang kawan.
Akhirnya ruang dan waktu itu mengikuti setiap pemiliknya. Dia si pribadi. Dia si individu. Dia si Ego. Dia si Diri. Dia si Aku. Masing-masing punya jatah dan peran sendiri. Masing-masing punya jalan sendiri. Masing-masing menjalankan ruang dan waktunya sendiri. Masing-masing masing-masing. Penilaian subyektif terhadap waktu dan ruang tergantung pada si penganut. Tak ada waktu yang absolut. Lalu apa hakku untuk menghakiminya. Setiap makhluk butuh ruang dan waktu untuk hidup. Manusia adalah makhluk, maka dia harus diberi ruang dan waktu agar tetap hidup. Walaupun dia insinyur. Hoooho.
Bulan mudik datang. Dia sekarang telah menjadi insinyur. Sebentar lagi dia juga akan menjadi gurunya insinyur. Alhamdulilah. Puji Tuhan. Setelah lebaran dia akan datang. Kemudian dia mau ditemui. Malah menemui. Katanya membicarakan apa yang sempat tak terkatakan. Memperbaiki apa yang tidak benar. Meluruskan apa yang salah. Dan memperindah apa yang buruk. Sekurang-kurangnya berjabat tangan!
Ah kawanku itu masih kelamaan ternyata, walaupun dia sudah menjadi insinyur! Manusia membuat sejarahnya sendiri, tetapi mereka tak dapat membuat menurut sekehendaknya, mereka tak dapat membuat di bawah syarat-syarat yang dipilihnya, tetapi di bawah syarat-syarat yang langsung terdapat, disediakan dan diwariskan dari masa silam. Tapi semua sudah terlambat. Gatalku dulu mengapa digaruk sekarang? Aku tidak mau dan juga tidak bisa. Tanganku tak akan lagi hanya sekedar menunggu berjabat tangan. Tapi juga menampung pada Tuhan untuk mendoakannya agar dia semakin berhati-hati. Tapi mungkin setelah hari raya nanti tanganku juga bersalaman dengan ibu dan bapaknya yang luarbiasa itu. Orangtua yang sangat kuhormati. Bisa jadi kami akan bertemu di masjid atau ku datang ke rumahnya. Sekurang-kurangnya makan kacang asinnya. Hahaah. Di samping itu aku akan merancang jadwal untuk datang pada “malam bainai”-nya dan menyediakan tanganku memasang inai pada jemarinya yang belum kujabat itu. Dia tetap kawanku. Kawan yang lupa. Orang lupa hanya perlu diingatkan. Oleh siapa saja. Tak terkecuali oleh angin. Apalagi hati yang tulus.
Terlebih penting dari semua itu, aku sudah menyediakan waktu dalam agendaku untuk memenuhi undangan ibunya: menghadiri pesta sunatan anaknya. Seperti hari ini. Dering lagu tujuhbelasan menggema dari setiap sudut. Aku ingin keluar. Aku akan menonton pawai yang mungkin asik di bulan yang tak biasa ini. Kalau ada.
Rasa, bumi merah putih 65
Larut aku membaca cerita ini…. Makasih banyak ya telah berbagi. Salam kenal dan selamat terus berkarya….