Aku bercinta, Maka aku bertanya
Satu-satu aku sayang ibu
Dua-dua juga sayang ayah
Tiga-tiga sayang adik kakak
Satu dua tiga sayang semuanya
Keponakanku pernah mengajukan “protes” kala kami berdua menyanyikan lagu ini, kenapa kok cuman sampai angka tiga ya?katanya… kenapa ga ada empat, kan masih ada si manis yang harus disayang (Si manis itu kucing di rumah kami) empat-empat juga sayang si manis .. katanya ..
kataku, kan si manis udah masuk satu dua tiga sayang semuanya …
sayang semuanya itu apa artinya? artinya ,.. kita sayang juga sama si manis, cuman si manis ga disebutin namanya ..
harus disebutin, kalau ga nanti si manisnya marah dan nangis… si belang juga dimasukin jadinya lima-lima juga sayang si belang (belang= kucing kami yang lain juga), irvan juga (irvan=nama anak tetangga kami), dan akhirnya dia menyebutkan sampai lagu ini berujung sepuluh-sepuluh juga sayang …. Stagnan sampai pada angka dia bisa menghitung. Sepuluh. Dan “sayang” si keponakaanku itu cuma terdefinisikan sampai angka: 10. hhhmmm anak kecil memang luar biasa (jujurnya). Entahlah ketika dia sudah dewasa dan bisa menghitung sampai ribuan apakah dia bisa mendefenisikan sayangnya sampai dengan angka ribuan juga entah tidak. (lagi…)
mengusir biasa …
Duduak surang basampik sampik
Duduak basamo balapang lapang
Kato surang di bulek-i
Kato basamo di paiyokan
Kita memang harus berbicara
Kau tahu apa yang membuat kita berhenti?
Bila kita telah melangkah pada batas jalan
Dan berlayar mencapai pulau
Tapi sebelum itu alangkah baiknya bila kita berhenti sejenak
Menarik nafas dan mencumbui semilir angin
Dan mengatakan padanya
Betapa luar biasanya taman dengan air terjun itu …
Betapa indahnya wismamu oleh kaumku
Di ujung jalan sana …
Di atas pulau itu … (lagi…)
semua hanyalah angka
pernah kukatakan padanya semua hanyalah angka
waktu …
umur …
apalagi perencanaan tak terkecuali kenyataan
angka-angka itu berputar merancang sebuah impian atau mencekam dengan realita
itulah dia.
dengan lingkarannya ia masukkan kita kesana
ke sebuah labirin yang tak seorangpun tahu ada apa di dalamnya
kecuali suratan
juga uluran juang.
kita memang harus berikrar kawan …
walaupun hasil kali bagi tambah dan kurangnya
tetap akan berwujud sama.
kecuali bila kita tidak mau melakukan kebiasaan ini.
tapi apa yang dapat dialami oleh angka selain kali bagi tambah dan kurang?
mmm …
semua tentang kebutuhan
“Kapan kau akan membukanya?” tanyanya.
Aku berkata padanya nanti saja kalau ku butuh
kau kan tau kawan, butuh itu ada bila ada ketidakseimbangan dalam gerakmu memenuhi hidup.
aku tertawa .. dan dia pun tertawa ..
kadang tertawa bisa menjadi milik orang gila bila dia kau keluarkan tanpa batas,
mungkin aku sudah gila, dan dia juga.
tapi tertawa sepertinya menjadi solusiku untuk tak menangis pada hidup apalagi pada kematian,
entah dia.
kau tanya sajalah padanya. apa yang membuatnya tertawa.
tertawa saja dan itu adalah kebutuhan.
saat ini.
setelah begitu banyak tangis yang kita lihat
setelah bibir tersimpul dikalahkan oleh air mata.
setelah wajah kaku kuyu menjadi pemandangan keseharian
setelah semua hanya bertema kesedihan
semua hanya butuh kebahagiaan.
dan itu dekat dengan tawa …
(untuk orang-orang gila yang mempunyai kelebihan tawa … hahahahaha)
Aku Pulang
mmmm …
Lama pergi membuat keinginan untuk pulang itu pun muncul. seminggu meninggalkan Jatinangor yang tak kumengerti udaranya untuk menemui aneka manusia di Raimuna Nasional di Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta. Pertemuan Penegak dan pandega. Aku Pandu. dan itu lebih ke Jiwa tak hanya simbol. Itu berarti aku mempunyai banyak saudara di negeri ini yang mempunyai perbedaan denganku dalam berbagai hal. bahasa, agama, warna kulit, bentuk rambut, dan juga budaya. Tapi inilah yang membuat kekayaan itu semakin terasa. Luar biasanya Indonesia. Semua Pramuka setingkat SMA-Perguruan Tinggi seluruh Indonesia berkumpul. Tapi yang paling menarik, semua jenis manusia ada… segala budaya ditampilkan .. segala pakaian dan corak lokal bermunculan .. dan suara-suara unik pun terdengar …
luar biasanya …. senangnya …
(dan tunggu aja cerita lengkapnya ..)


1 komentar