Pantangan di negeri sendiri, larangan di negeri orang lain …
Kata-kata di atas, taglinenya Pak Yamin, guru agamaku waktu SMA, tiap ngajar, pasti tagline ini keluar, Sang Bapak aslinya orang Jambi yang merantau ke Padang Panjang dan menikah dengan orang minang. untuk Jambi-Sumbar, mungkin ini masih berlaku, tapi semakin keluar kita, sepertinya, tagline ini sedikit tidak berlaku ..
satu bukti kutemukan di sini, di bumi Pasundan.. Bagi orang minang menjadi hal biasa menyuci tangan sesudah makan langsung di piring bekas makan kita dan malah hal itu dianjurkan dengan pameo: biar ndak kariang rasaki (susah rezeki), atau maksud lain biar yang ada di dapur ga nyusah nyucinya
.. makanya aia kabasuah harus ada. (lagi…)
citra orang minang
entah sudah berapa kali harus kukatakan tidak semua laki-laki minang itu “dibeli” ketika menikah, itu hanya budaya di Pariaman, .. sebuah kabupaten di Sumbar .. kalaupun “dibeli”, toh adat bukanlah sebuah aturan sangat kaku yang tak bisa dikompromikan, asalkan masing2 keluarga bisa “berkomunikasi” saja. musyawarah mufakat demi bulat kata. (lagi…)